MAKALAH TOKOH PENDIDIKAN

 BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pendidikan yang kita rasakan dan laksanakan sekarang ini tidaklah terlepas dari usaha-usaha para tokoh pendidikan yang dahulu telah merintisya dengan pengorbanan serta perjuangan yang sangat berat dan tidak mengenal lelah. Oleh karena itu, jika kita berbicara tentang pendidikan yang kini berlangsung tidaklah arif jika tidak membicarakan sosok dan tokoh-tokoh pendidikan tersebut.

Jauh sebelum kemerdekaan RI, banyak tokoh Indonesia yang memiliki gagasan pemikiran yang maju, khususnya dalam bidang pendidikan. Beberapa tokoh pendidikan seperti Raden Ajeng Kartini, Raden Dewi Sartina, Rohana Kudus, Ki Hajar Dewantara, Mohammad Syafei, K.H. Ahmad Dahlan, serta K.H. Hasyim Asy’ari. Merekalah yang telah memberikan kontribusi besar dalam dunia pendidikan Indonesia.

Pada dasarnya cukup banyak tokoh yang sangat berjasa dalam dunia pendidikan di Indonesia. Namun, dalam kesempatan ini hanya sebagian yang bsa dikemukakakan, dengan tidak mengurangi dan mengecilkan arti perjuangan dan jasa-jasa tokoh lain.

Atas dasar inilah penulis menjelaskan pokok bahasan ini dengan tujan agar para mahasiswa dan seluruh elemen lainnya yang terlibat dapat mengenang dan tidak pernah melupakan gagasan ataupun karya dari tokoh-tokoh pendidikan serta dapat memberikan perluasan wawasan dan pemahaman mengenai tokoh pendidikan di Indonesia

  1. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana biografi serta peran Raden Ajeng Kartini dalam dunia pendidikan di Indonesia?
  2. Bagaimana biografi serta peran Raden Dewi Sartika dalam dunia pendidikan di Indonesia?
  3. Bagaimana biografi serta peran Rohana Kudus dalam dunia pendidikan di Indonesia?
  4. Bagaimana biografi serta peran Ki Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan di Indonesia?
  5. Bagaimana biografi serta peran Mohammad Syafei dalam dunia pendidikan di Indonesia?
  6. Bagaimana biografi serta peran K.H. Ahmad Dahlan dalam dunia pendidikan di Indonesia?
  7. Bagaimana biografi serta peran K.H. Hasyim Asy’ari dalam dunia pendidikan di Indonesia?
  1. Tujuan
  1. Mengetahui biografi serta peran Raden Ajeng Kartini dalam dunia Pendidikan di Indonesia.
  2. Mengetahui biografi serta peran Raden Dewi Sartika dalam dunia Pendidikan di Indonesia.
  3. Mengetahui biografi serta peran Rohana Kudus dalam dunia Pendidikan di Indonesia.
  4. Mengetahui biografi serta peran Ki Hajar Dewantara dalam dunia Pendidikan di Indonesia.
  5. Mengetahui biografi serta peran Mohammad Syafei dalam dunia Pendidikan di Indonesia.
  6. Mengetahui biografi serta peran K.H. Ahmad Dahlan dalam dunia Pendidikan di Indonesia.
  7. Mengetahui biografi serta peran K.H. Hasyim Asy’ari dalam dunia Pendidikan di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Raden Ajeng Kartini

R.A. Kartini lahir pada 21 April 1987 di sebuah kota kecil yang masuk ke dalam wilayah karisidenan Jepara yaitu Mayong, dari pasangan Raden Mas (R.M.) Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah. Raden Mas Sosroningrat merupakan patih Jepara sedangkan Mas Ajeng Ngasirah yang merupakan putri dari Kyai Haji Modirno. R.A Kartini lahir dalam lingkungan keluarga priyayi dan bangsawan, karena itu ia berhak menambahkan gelar Raden Ajeng (R.A.) di depan namanya. R.A Kartini wafat di Rembang pada tanggal 17 September 1904 pada umur 25 tahun, 4 hari setelah melahirkan anaknya.[1]

R.A. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, R.A. Kartini adalah anak perempuan tertua. Sampai usia 12 tahun Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School) . Namun, setelah usia 12 tahun Kartini harus tinggal di rumah untuk menjalani proses pingitan (berdiam diri di rumah). Padahal R.A. Kartini sangat menginginkan untuk melanjutkan pendidikannya. Para sahabatnya yang berasal dari Belanda senantiasa berikhtiar supaya Kartini tidak dipingit, namun usaha tersebut sia-sia. Orang tua R.A Kartini memegang adat memingit dengan teguh meskipun dalam hal lain sudah maju, bahkan sebenarnya keluarga tersebut merupakan keluarga termaju di pulau Jawa. Empat tahun lamanya R.A. Kartini tidak diizinkan keluar (dipingit). Sahabat R.A. Kartini yang berasal dari Eropa tidak berhenti untuk berikhtiar agar R.A. Kartini diberi kemerdekaannya kembali. Akhirnya, pada tahun 1898 R.A. Kartini diberi kemerdekaan secara resmi bahkan dizinkan untuk turut bepergian keluar dari tempat tinggalnya.[2]

R.A. Kartini adalah cermin tragedi perempuan di awal abad ke-20 saat harkat perempuan terperosot  di sumur, dapur, dan kasur. Timbul kepedihan dan  kegelisahan dalam diri R.A. Kartini karena keterbelakangan, dirundung cita-cita, dihambat kasih sayang, dikekang adat dan dibutakan oleh peradaban bangsanya sendiri yang semakin lama semakin terjajah. R.A. Kartini lalu mencetuskan perubahan besar bagi kebangkitan perempuan Indonesia melalui emansipasi wanita, yakni suatu upaya memperjuangkan hak-hak wanita agar dapat sejajar dengan kaum pria.[3] Perjuangan emansipasi wanita yang dilakukan oleh R.A. Kartini tersebut disalurkan melalui pendidikan. Pendidikan bagi R.A. Kartini merupakan suatu alat yang digunakan untuk membuka pikiran msayarakat ke arah modernitas. Suatu langkah menuju peradaban yang maju, di mana laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama, dan dapat bekerja sama untuk membangun bangsa. Persamaan pendidikan merupakan salah satu bentuk kebebasan kepada perempuan.[4] Bentuk perjuangan emansipasi wanita melalui pendidikan diwujudkan dengan mendirikan sekolah khusus kaum wanita. Jenis sekolah yang dirintis dan didirikan ole R.A. Kartini adalah sebagai berikut:

  1. Sekolah Gadis di Jepara, dibuka pada tahun 1903.
  2. Sekolah Gadis di Rembang.

Pada dasarnya apa yang dicita-citakan dan dilakukan oleh R.A. Kartini hanyalah sebagai perintis jalan yang nantinya harus diteruskan oleh generasi penurus bangsa khususnya bagi para wanita Indonesia.[5] Untuk menghormati cita-cita R.A. Kartini, pada tahun 1913 didirikanlah sekolah rendah untuk anak perempuan diberbagai kota besar. Sekolah tersebut dinamakan Sekolah Kartini.[6]

 

  1. Raden Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika dilahirkan pada tanggal 4 Desember 1884 di Bandung dalam kalangan menak (bangsawan) Sunda, sebagai putri kedua dari pasangan Raden Rangga Somanagara, Patih Bandung, dan Raden Ayu Rajapermas. Sekitar umur 6 tahun, Raden Dewi Sartika bersekolah di Eerste Klasse School yakni sekolah yang hanya menampung anak-anak Belanda, dan bangsawan saja. Namun, kesempatan mengenyam pendidikan tersebut hanya dapat dinikmati Raden Dewi Sartika hingga kelas 3, Raden Dewi Sartika tidak bisa mengenyam pendidikan hingga tamat. Hal tersebut dikarenakan pada saat itu terjadi prahara di kepatihan yang menyebabkan ayahandanya harus diasingka di Ternate sebab dituduh melakukan percobaan pembunuhan terhadap Bupati Bandung yang akan dilantik pada waktu itu. Raden Ayu Rajapermas pun memutuskan untuk ikut menemani suaminya ke Ternate. Kemudian, Dewi Sartika dititipkan kepada pamannya. Kejadian ini, membukakan pikirannya untuk mengubah jalan pikiran perempuan agar lebih mandiri dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Kaum perempuan harus mendapatkan pengajaran dan pendidikan sedemikian rupa sehingga ia sanggup dan dapat berdiri di atas kaki sendiri. Terlebih-lebih Raden Dewi Sartika telah merasakan dan menyaksikan sendiri atas perlakuan yang sangat berbeda antara pendidikan bagi perempuan dan laki-laki pada waktu itu. Raden Dewi Sartika semakin mempunyai tekad untuk dapat berjuang melaksanakan cita-citanya dalam memajukan kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang layak, dan memperkuat keteguhan untuk berjuang dalam memajukan kaum perempuan.[7]

Untuk merealisasikan cita-cita pendidikannya, pada tahun 1904 didirikanlah sebuah sekolah yang diberi nama Sekolah Istri. Ketika pertama dibuka, sekolah ini mempunyai 20 murid, kemudian dari tahun ke tahun jumlahnya semakin bertambah.[8] Pada tahun 1914 Sekolah Istri diganti namanya menjadi Sekolah Kautamaan Istri. Pada saat terjadinya Perang Dunia II di Indonesia Sekolah Kautamaan Istri ini ditutup sementara. Kemudian, pada saat peristiwa Bandung Lautan Api, Raden Dewi Sartika jatuh sakit dan wafat pada 11 September 1947.[9]

  1. Rohana Kudus

Rohana Kudus dilahirkan pada tanggal 20 Desember 1884 di Kota Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Rohana memiliki nama asli Siti Rohana. Ayahnya bernama Mohamad Rajad Maharadja Soetan dan ibunya bernama Kiam. Rohana Kudus merupakan kakak tiri dari Sultan Sjahrir, yaitu Perdana Menteri Indonesia yang pertama.

Rohana Kudus adalah salah satu murid home schooling, ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Kemampuan baca tulis ia peroleh dari ayahnya yang merupakan seorang pegawai Belanda. Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal, namun kemampuannya tidak kalah dengan para siswa sekolahan. Keinginan dan semangat belajarnya tinggi menyebabkan Rohana cepat menguasai materi-materi yang diajarkan oleh ayahnya.[10]

Rohana Kudus merupakan perempuan Minangkabau yang mencoba menaburkan benih pembebasan dan melakukan pemberdayaan perempuan, karena ketika itu perempuan sedang berada dalam ranah marjinal yang sangat berlebihan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, akibat konstruski budaya. Artinya, perempuan dipetakan atau dipolakan sebagai kaum yang memiliki domain (ranah) kerja yang sentralistiknya domestik yang sering dianekdokkan dengan sumur, dapur, dan kasur. Kedua, akibat pemberdayaan perempuan yang belum merata. Pemberdayaan ini sangat terkait dengan pendidikan, sebab keterbelakangan perempuan dominan disebabkan oleh rendahnya pendidikan yang dimiliki oleh kaum perempuan tersebut. Dalam prespektif masyarakat konstruksi gender pendidikan bagi perempuan mempunyai keterbatasan, mengingat pekerjaan perempuan itu sudah jelas, sebagai pelayan rumah tangga.[11] Rohana Kudus mempunyai komitmen yang kuat pada pendidikan terutama untuk kaum perempuan. Ia percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan termasuk kesempatan untuk mendapatkan pendidikan adalah tindakan semena-mena dan harus dilawan. Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan, serta perjuangannya, Rohana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan.[12] Berikut usaha yang dilakukan oleh Rohana Kudus dalam upaya mengangkat citra kaum wanita:

  1. Tahun 1896 saat usianya 12 tahun, ia sudah mengajar teman-teman gadis di kampungnya dalam bidang membaca dan menulis huruf Arab dan latin.
  2. Tahun 1905, ia mendirikan Sekolah Gadis di Kota Gedang, yang kemudian pada tahun 1911 diubah namanya menjadi Sekolah Kerajinan Amai Satia.
  3. Pada tanggal 10 Juli 1912, ia ikut melahirkan sekaligus menjadi pemimpin redaksi surat kabar wanita dengan nama Soenting Melajoe di Padang.[13]

Rohana Kudus telah berhasil mewujudkan mimpi serta cita-citanya. Rohana dipanggil ke hadirat Illahi pada 17 Agustus 1972 di usianya yang ke-88 tahun. Perjuangannya telah mampu menyadarkan dan memberi inspirasi bagi banyak orang.[14]

  1. Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara atau yang sebelumnya bernama Raden Mas Suwardi Suryaningrat, lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta, putra dari GPH Soerjaningrat. Dari genealoginya Ki Hajar Dewantara merupakan keluarga bangsawan Pakualaman. Sebagai bangsawan Jawa, Ki Hajar Dewantara mengenyam pendidikan di ELS (Europeesche Lagere School). Kemudian Ki Hajar Dewantara mendapatkan kesempatan untuk masuk ke STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen) atau biasa disebut sebagai Sekolah Dokter Jawa. Namun karena kondisi kesehatan tidak memungkinkan sehingga Ki Hajar Dewantara tidak tamat dari sekolah ini.

Adapun profesi yang digelutinya adalah dunia jurnalisme yang berkiprah di beberapa surat kabar dan majalah pada waktu itu, seperti Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, dan lain sebagainya. Tulisannya komunikatif, halus, mengena, tetapi keras. Jiwanya sebagai pendidik tertanam dalam sanubarinya direalisasikan dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa pada tahun 1922 guna mendidik masyarakat bumiputra. Karena jasanya yang sangat besar tersebut, maka sampai sekarang diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional.[15]

Perguruan Taman Siswa yang didirikan pada tanggal 3 Juli 1922 ini, pada mulanya bernama National Onderwijs Institut Taman Siswa di Yogyakarta. Pertama-tama yang dibuat hanya Taman nak dan Kursus Guru. Namun, setelah itu terus berkembang. Secara lengkap bagian-bagian pendidikan pada Perguruan Taman Siswa ini adalah:

  1. Taman indria (setingkat dengan TK).
  2. Taman anak (setingkat dengan kelas I-III sekolah dasar).
  3. Taman muda (setingkat kelas IV-VI sekolah dasar).
  4. Taman dewasa (setara SMP).
  5. Taman Madia (setara SMA).
  6. Taman guru B-1 (mendidik calon guru untuk taman anak dan taman muda).
  7. Taman guru B-2.
  8. Taman guru B-3 (mendidik calon guru untuk taman dewasa), taman guru B-3 ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian A untuk jurusan Ilmu Pasti dan Alam, dan bagian B untuk jurusan Budaya.
  9. Taman Guru Indria (mendidik anak wanita yang ingin menjadi guru pada taman indria).[16]

Di dalam penyelenggaraan pendidikan, Ki Hajar Dewantara menghendaki diterapkannya sistem among. Sistem among merupakan perwujudan konsepsi Ki Hajar Dewantara dalam menempatkan anak didik sebagai sentral proses pendidikan.[17] Sistem ini mengemukakan dua dasar, yaitu :

  1. Kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin sehingga dapat hidup merdeka (dapat berdiri sendiri).
  2. Kodrat alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya.

Penyelenggaraan taman siswa didasarkan pada azaz pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara yang disebut sebagai Panca Darma Taman Siswa, yaitu sebagai berikut:

  1. Azaz kemerdekaan.
  2. Azaz kodrat alam.
  3. Azaz kebudayaan.
  4. Azaz kebangsaan.
  5. Azaz kemanusiaan.

Disamping itu, penyelenggaraan taman siswa didasarkan pada beberapa semboyang yang menjiwainya, yaitu sebagai berikut:

  1. Lawan sastra ngesti mulia, yang berarti dengan kecerdasan jiwa (kita) menuju arah kesejahteraan.
  2. Suci tata ngesti tunggal, yang berarti dengan kesucian batin dan teraturnya hidup batin, kita mengajar kesempurnaan.
  3. Tut wuri handayani, yang berarti mengikuti dari belakang dengan memberikan pengaruh.
  4. Kita berhamba kepada sang anak.
  5. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung, yang berarti segala yang menghalangi pasti akan hancur.

Setelah Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara menjabat di beberapa jabatan penting seperti di pemerintahan, beliau menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan RI yang pertama, anggota dan wakil ketua DPA, anggota parlemen dan beliau juga berhasil mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Kebudayaan dari Universitas Gadjah Mada pada 19 Desember 1956.

Ki Hajar Dewantara wafat pada tanggal 26 April 1959 di  Yogyakarta. Beliau telah memberikan karya terbaiknya kepada nusa dan bangsa. Semboyan tut wuri handayani diabadikan sebagai lambang dan semboyan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Repblik Indonesia.[18]

  1. Mohammad Syafei

Mohammad Syafei lahir di Ketapang, Kalimantan Barat pada tanggal 21 Januari 1896. Beliau mengenyam pendidikan di Kweekschool atau Sekolah Raja di Fort de Kock (Bukit Tinggi) pada tahun 1908 sampai 1914. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan di Belanda.[19]

Pada tahun 1922 beliau menjadi guru pada Sekolah Kartini di Jakarta dan sejak itu aktivitasnya di bidang pendidikan terus bertambah. Sebagai seorang tokoh pendidikan, Mohammad Syafei berjasa besar dalam mendirikan sekolah yang diberi nama Indonesische Nederlandsche School atau yang lebih dikenal dengan sebutan INS, di Kayutanam Sumatra Barat.

Dasar pendidikan yang dikembangkannya adalah kemasyarakatan, keaktifan, kepraktisan, serta berpikir logis dan rasional. Berkenaan dengan itulah maka isi pendidikan yang dikembangkannya adalah bahan-bahan yang dapat mengembangkan pikiran, perasaan, dan keterampilan atau yang dikenal dengan istilah 3 H, yaitu Head, Heart, and Hand.

INS menitikberatkan pendidikannya pada dunia kerja. INS menyelenggarakan pendidikan dalam jenjang, sebagai berikut:

  1. Ruang bawah, yakni setara dengan sekolah dasar. Lama pendidikannya 7 tahun.
  2. Ruang atas, yakni setara dengan sekolah menengah. Lama pendidikannya 6 tahun.

Tujuan sekolah yang diselenggarakan oleh Mohammad Syafei adalah:

  1. Mendidik anak-anak agar mampu berpikir secara rasional.
  2. Mendidik anak-anak agar mampu bekerja secara teratur dan bersungguh-sungguh.
  3. Mendidik anak-anak agar menjadi manusia yang berwatak baik.
  4. Menanamkan rasa persatuan.

Pada tahun 1952, Mohammad Syafei mendapatkan penghargaan dari pemerintah terhadap usaha-usaha Mohammad Syafei dibukalah SGB Istimewa, yang dapat meneruskan dan menyebarkan cita-citanya. Mohammad Syafei pernah diangkat menjadi Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan pada Kabinet Sjahrir, serta menjadi anggota DPA. Beliau wafat pada tanggal 5 maret 1969.[20]

  1. K.H. Ahmad Dahlan

KH. Ahmad Dahlan dilahirkan pada tahun 1869 di Kauman Yogyakarta dengan nama Muhamad Darwis. Ayahnya bernama K.H. Abu Bakar bin K. Sulaiman, seorang khatib tetap di Masjid Sultan. Sementara ibunya bernama Siti Aminah, merupakan anak seorang penghulu di Kraton Yogyakarta. K.H. Dahlan berasal dari keluarga yang terkenal sangat taat beragama dan terkenal dalam lingkup Kesultanan Yogyakarta yang secara biolografis silsilahnya dapat ditelusuri sampai pada Maulana Malik Ibrahim.

Pendidikan dasar yang ditempuhnya dimulai dengan belajar membaca, menulis, mengaji al-Quran dan kitab-kitab agama. K.H. Ahmad Dahlan tidak pernah mengenyam pendidikan formal di sekolah-sekolah model pendidikan Belanda. Kemudian, K.H. Ahmad Dahlan mengenyam pendidikan di salah satu pesantren di Yogyakarta. Setelah menyelesaikan pendidikannya di pesantren saat usianya mencapai 22 tahun, K.H. Ahmad Dahlan melanjutkan pendidikannya di Mekkah. Diyakini bahwa selama tinggalnya dikota Mekkah K.H. Ahmad Dahlan bertemu dengan ide-ide pembaharuan Islam yang dipelapori oleh Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha.

Sekembalinya dari Mekkah, dengan berbekal ilmu yang cukup, K.H. Ahmad Dahlan diangkat sebagai khatib Masjid Agung Yogyakarta. Pada posisi ini, beliau mendapat gelar mas, yang menurut Karel A. Steenbrik sudah dapat digolongkan sebagai kelompok kaum bangsawan atau ningrat, meskipun dengan strata yang rendah.

Pada tahun 1909, K.H. Ahmad Dahlan telah membuat terobosan dan strategi dakwah, beliau memasuki perkumpulan Budi Utomo. Melalui perkumpulan ini, K.H. Ahmad Dahlan berharap dapat memberikan pelajaran agama kepada para anggotanya dan juga dapat bekerja di sekolah-sekolah pemerintah. Rupanya, pelajaran dan cara mengajar agama yang diberikan K.H. Ahmad Dahlan dapat diterima secara baik oleh anggota-anggota Budi Utomo.

Kemudian, pada 18 November 1912, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah di Yogyakarta.[21] K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan banyak sekali konsep kehidupan yang kemudian diterapkan di organisasi Muhammadiyah, seperti beliau menekankan untuk berjuang sungguh-sungguh dalam menyebarkan Islam melalui Muhammadiyah dengan salah satu perkataannya yang terkenal yaitu “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan engkau mencari hidup di Muhammadiyah”.[22] Organisasi ini juga aktif menyelenggarakan lembaga pendidikan sekolah pada semua jenjang pendidikan dan tersebar ke berbagai pelosok tanah air. Tujuan pendidikannya adalah terwujudnya manusia muslim, berakhlak, cakap, percaya kepada diri sendiri, berguna bagi masyarakat dan negara. Berikut merupakan sekolah yang dikembangkannya:

  1. Sebelum merdeka
    1. Sekolah umum: TK, vervolog school 2 tahun, schakel school  4 tahun, HIS 7 tahun, MULO 3 tahus, AMS 3 tahun, dan HIK 3 tahun.
    2. Sekolah agama: madrasah ibtidaiyah 3 tahun, tsanawiyah 3 tahun, muallimin/muallimat 5 tahun, kulliatul muballighin (SPG Islam) 5 tahun.
  2. Sesudah merdeka

Setelah Indonesia merdeka, perkembangan pendidikan Muhammadiyah semakin pesat. Pada dasarnya ada empat jenis lembaga pendidikan yang dikembangkannya, yaitu:

  1. Sekolah umum yang bernaung di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu: SD, SMP, SMTA, SPG, SMEA, SMKK, dan sebagainya.
  2. Madrasah yang bernaung di bawah Departemen Agama, yaitu madrasah ibtidaiyah, MTs, madrasah aliyah.
  3. Jenis sekolah atau madrasah khusus Muhamadiyah, yaitu muallimin, muallimat, sekolah tabligh, dan Pondok Pesantren Muhammadiyah.
  4. Perguruan tinggi Muhammadiyah, ada yang umum dan ada yang berciri khas agama. Untuk perguruan tinggi umumnya di bawah pembinaan Kopertis Depdikbud, sedangkan perguruan tinggi agama di bawah pembinaan Kopertis Departemen Agama.[23]

Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2010-2015 menyebut bahwa jumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah adalah 177, sedangkan jumlah sekolah/madrasah/pesantren sejumlah 5.264. Menurut Fakhrudin, kunci sukses pendidikan Muhammadiyah berakar dari pandangan K.H. Ahmad Dahlan yang mampu menempatkan pendidikan sebagai wahana tajdid dan dakwah.[24]

  1. K.H. Hasyim Asy’ari

K.H. Hasyim Asy’ari lahir di Gedang, Jombang, Jawa Timur pada hari Selasa 24 Dzulqo’dah 1287 H atau yang bertepatan pada tanggal 14 Februari 1871 M.[25] Secara genealogi K.H. Hasyim Asy’ari merupakan keturunan kyai, karena kakek buyutnya yaitu Kyai Sihah merupakan pendiri Pondak Pesantren Tambak Beras, sedangkan kakeknya Kyai Usman merupakan kyai terkenal pendiri Pondok Pesantren Gedang, sedangkan ayahnya merupakan pengasuh Pondok Pesantren Keras di Jombang. Dari sisi inilah maka dapat dilihat bahwa K.H. Hasyim Asy’ari lahir dan dibesarkan di lingkungan pondok pesantren. Bahkan pada usia 13 tahun ia sudah menguasai kitab-kitab Islam klasik dan diangkat menjadi badal (asisten pengajar) di pondok pesantren ayahnya.

Pada usia 15 tahun, Hasyim Asy’ari mulai mengembara ke berbagai pesantren di Pulau Jawa untuk memperdalam ilmu agama. Kemudian pada tahun 1893, K.H. Hasyim Asy’ari berangkat ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama dan berguru kepada Syekh Mahfudh At-Tarmisi yang merupakan pengajar di Masjidil Haram dan merupakan ulama ahli hadits di Mekkah. Dari Syekh Mahfudh At-Tirmisi inilah, K.H. Hasyim Asy’ari mendapatkan ijazah tarikat Qadariah dan Naqsabandiah.

Setelah 7 tahun belajar di Mekkah, K.H. Hasyim Asy’ari kembali ke tanah air dan mendirikan Pondok Pesantren Tebu Ireng di Jombang pada 26 Rabiul Awal 1317 H/1899 M. Di pondok pesantren inilah beliau mengajarkan kitab-kitab klasik pada santrinya yang oleh kalangan NU dikenal dengan kitab kuning. Dari pesantren ini pula kemudian banyak bermunculan kyai dan ulama terkemuka yang mewarnai pemikiran Islam di Indonesia.[26] Di era selanjutnya, inovasi lembaga pendidikan di Pesantren Tebu Ireng dilakukan oleh K.H. Muhammad Ilyas dan K.H. Abdul Wahid.[27]

Selain berjasa dalam mendirikan pesantren, K.H. Hasyim Asy’ari  juga berjasa dalam mendirikan organisasi Nahdatul Ulama (NU). Organisasi tersebut didirikan pada tanggal 31 Januari 1926. NU tidak hanya bergerak dalam bidang sosial kemasyrakatan, tetapi sangat memperhatikan masalah-masalah pendidikan. Apalagi di NU ada satu bidang khusus yang menangani masalah pendidikan yang disebut ma’arif. Ma’arif  bertugas untuk membuat perundang-undangan dan program pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan sekolah atau sekolah yang berda di bawah naungan NU.

Selain memiliki pesantren yang cukup banyak, NU juga mendirikan lembaga-lembaga pendidikan madrasah dan sekolah-sekolah umum. Sekedar gambaran lembaga pendidikan yang dilaksanakan NU (selain pesantren), di antaranya: raudhatul athfal (TK) 3 tahun, SRI 3 tahun, SMP NU 3 tahun, SMA NU 3 tahun, SGB 3 tahun, SGA NU 3 tahun, madrasah menengah pertama (MMP) NU 3 tahun, madrasah menengah atas (MMA) NU 3 tahun, dan muallimin/muallimat NU 5 tahun. Selain itu, NU juga memiliki beberapa perguruan tinggi.

Demikianlah bagaimana peran NU di bidang pendidikan, yang semuanya itu tidak terlepas dari peran K.H. Hasyim Asy’ari sebagai pendirinya. Beliau berpulang ke rahmatullah pada tanggal 25 Juli 1947, dengan meninggalkan karya dan peninggalan yang monumental, terutama Pondok Pesantren Tebu Ireng, yang merupakan pesantren tertua dan tersebar di Jawa Timur.[28]

 

 

 

 


BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Pendidikan yang kita laksanakan sekarang ini, tidak lepas dari usaha-usaha para tokoh pendidikan yang dahulu telah merintisnya dengan perjuangan yang sangat berat dan tidak mengenal lelah. Oleh karena itu, jika kita berbicara tentang pendidikan yang kini berlangsung tidaklah arif jika kita tidak membicarakan sosok dan tokoh pendidikan seperti R.A Kartini, Raden Ajeng Dewi Sartika, Rohana Kudus, Mohammad Syafe’i, Ki Hajar Dewantara, K.H. Ahmad Dahlan, serta K.H. Hasyim Asy’ari, dengan hanya menerima jerih payah dan karya mereka. Sejumlah tokoh tersebut merupakan tokoh pendidikan pribumi yang telah memberikan warna pendidika Indonesia. Dari semua pembahasan diatas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwasannya pendidikan itu sangatlah penting. Kita semua wajib untuk menempanya untuk bekal masa depan dan untuk peradaban dunia.

  1. Saran

Pendidikan yang terdapat di negara kita, yaitu Indonesia masih jauh dari harapan untuk menjadi yang terdepan, karena masih diperlukan pembenahan-pembenahan sistem yang terdapat di dalamnya. Kita sebagai generasi penerus bangsa, penyambung perjuangan para pahlawan pendiri pendidikan wajib untuk ikut serta mempertahankan, menjalankan, dan memjajukan warisan mereka yang telah mengantarkan Indoneisa pada kearifan dan kemajuan kependidikan di Indonesia ini.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Agustiningsih, Ema Pratama. 2019. “Pergerakan Perempuan di Minangkabau: Kiprah Rohana Kudus dalam Nasionalisme tahun 1912-1972. Ilmu Humoniora. Vol.03, No.02, . Hlm. 267.

 

Ahmad, Fandi. 2015.  “Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan tentang Pendidikan dan Implementasinta di SMP Muhammadiyah 6 Yogyakarta”,  Studi Islam. Vol. 16 . No. 2. Hlm. 145.

 

Ali, Mohammad, dkk. 2016. ”Pendidikan Bekemajuan: Refleksi Praksis Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan”. Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi. Vol. 4. No.1. Hlm. 44.

 

Azizatun Ni’mah, Zetty. 2014. “Pemikiran Pendidikan Islam Perspektif K.H. Ahmad Dalan (1869-1923 M) dan K.H. Hasyim Asy’ari (1871-1947 M): Study Komparatif dalam Konsep Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia”.  Didaktika Religia. Vol. 2. No. 1. Hlm. 163.

 

Hanani, Silfia. “Rohana Kudus dan Pendidikan Perempuan”. Marwah: Jurnal Perempuan, Agama, dan Jender. Vol. 10. No. 1.  Hlm. 2.

 

Hartutik. “R.A. Kartini: Emansipator Indonesia Awal Abad 2020”, Seuneubok Lada. Vol.2, No. 1.

 

Hasbullah. 2015. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

 

Ibrahim, Tatang. 2018. “Manajemen Sekolah Kaotamaan Istri Raden Dewi Sartika dalam Meningkatkan Keterampilan Kaum Wanita Sunda”. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Al-Idarah. Vol. 3. No. 1. Hlm. 21.

 

Khuluq, Lathiful. 2000. Fajar Kebangunan Ulama Biografi K.H. Hasyim Asy’ari. Yogyakarta: Lkis.

 

Marihandono, Djoko, dkk. 2016. Sisi Lain Kartini. Jakarta: Museum Museum Kebangkitan Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

 

Margono, Hartono. 2011.  “K.H. Hasyim Asy’ari dan Nahdatul Ulama: Perkembangan Awal dan Kontemporer”. Media Akademka. Vol. 26, . No.3. Hlm. 336-337.

 

Muthoifin, Mohammad Ali, dan Nur Wachidah. 2007. “Pemikiran Raden Ajeng Kartini Tentang Pendidikan Perempuan dan Relevasinya Terhadap Pendidikan Islam”. Studi Islam. Vol. 18, No. 1. Hlm.41.

 

Tanaka, Ahmad. “Sistem Among, Dalton, dan Shanti Niketan: Kajian Komparatif Historikal Sistem Pendidikan Indonesia, Amerika, dan India serta Implikasinya bagi Kemajuan Pendidikan di Indonesia Konteks Kekinian”. Teknologi Pendidikan Madrasah. Hlm. 313.

 

Wikipedia. Muhammad Sjafei. Diakes melalui https://id.m.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Sjafei pada tanggal 25 Maret 2020 pukul 19.03 WIB.

 

Wiryopranot, Suhartono. 2017. Perjuangan Ki Hajar Dewantara dari Politik ke Pendidikan. Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Yuliasari, Putri. 2014. “Relevansi Konsep Pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan di Abad 21”.As-Salam.  Vol. V, No. 1, hlm. 49-52.

 

Zakiah, Lina. 2011. Konsep Pendidikan Perempuan Menurut Raden Dewi Sartika. Skripsi. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. hlm.

 

 

 

 

 

 

 


[1]Djoko Marihandono, dkk., Sisi Lain Kartini, (Jakarta: Museum Museum Kebangkitan Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2016), hlm. 3-6.

[2]Hartutik, “R.A. Kartini: Emansipator Indonesia Awal Abad 2020”, Jurnal Seuneubok Lada, Vol.2, No. 1, hlm. 89-90.

[3]Ibid, hlm.86.

[4]Muthoifin, Mohammad Ali, dan Nur Wachidah, “Pemikiran Raden Ajeng Kartini Tentang Pendidikan Perempuan dan Relevasinya Terhadap Pendidikan Islam”, Jurnal Studi Islam, Vol. 18, No. 1, Juni 2007, hlm.41.

[5]Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Edisi Revisi), (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2015), hlm. 265.

[6]Hartutik, Op.Cit., hlm. 91.

[7]Lina Zakiah, Konsep Pendidikan Perempuan Menurut Raden Dewi Sartika, Skripsi, (Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2011), hlm. 52-61.

[8] Hasbullah, Op.Cit., hlm. 265.

[9]Tatang Ibrahim, “Manajemen Sekolah Kaotamaan Istri Raden Dewi Sartika dalam Meningkatkan Keterampilan Kaum Wanita Sunda”, Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Al-Idarah. Vol. 3. No. 1. hlm. 21.

[10]Ema Pratama Agustiningsih, “Pergerakan Perempuan di Minangkabau: Kiprah Rohana Kudus dalam Nasionalisme tahun 1912-1972, Jurnal Ilmu Humoniora, Vol.03, No.02, Desember 2019, hlm. 267.

[11]Silfia Hanani, “Rohana Kudus dan Pendidikan Perempuan”, Marwah: Jurnal Perempuan, Agama, dan Jender, Vol. 10. No. 1, hlm.2.

[12]Ema Pratama Agustiningsih, Op.Cit., hlm. 268.

[13] Hasbullah, Op.Cit., hlm. 265-266.

[14] Ema Pratama Agustiningsih, Op.Cit., hlm. 273.

[15]Suhartono Wiryopranoto, Perjuangan Ki Hajar Dewantara dari Politik ke Pendidikan, (Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017), hlm.9-10.

[16] Hasbullah, Op.Cit., hlm. 266-267.

[17]Ahmad Tanaka, “Sistem Among, Dalton, dan Shanti Niketan: Kajian Komparatif Historikal Sistem Pendidikan Indonesia, Amerika, dan India serta Implikasinya bagi Kemajuan Pendidikan di Indonesia Konteks Kekinian”, Jurnal Teknologi Pendidikan Madrasah, hlm. 313.

[18] Hasbullah, Op.Cit., hlm. 267.

[19]Wikipedia, Muhammad Sjafei, diakes melalui https://id.m.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Sjafei pada tanggal 25 Maret 2020 pukul 19.03 WIB.k

[20] Hasbullah, Op.Cit., hlm. 268-270.

[21]Putri Yuliasari, “Relevansi Konsep Pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan di Abad 21”, Jurnal  As-Salam, Vol. V, No. 1, 2014, hlm. 49-52.

[22]Fandi Ahmad, “Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan tentang Pendidikan dan Implementasinta di SMP Muhammadiyah 6 Yogyakarta”, Jurnal Studi Islam, Vol. 16, No. 2, Desember 2015, hlm 145.

[23]Hasbullah, Op.Cit., hlm. 271-272.

[24]Mohamad Ali, dkk, ”Pendidikan Bekemajuan: Refleksi Praksis Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan”, Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, Vol. 4, No. 1, Juni 2016, hlm. 44.

[25] Lathiful Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama Biografi K.H. Hasyim Asy’ari, (Yogyakarta: Lkis, 2000), hlm. 15.

[26] Hartono Margono, “K.H. Hasyim Asy’ari dan Nahdatul Ulama: Perkembangan Awal dan Kontemporer”, Jurnal Media Akademka, Vol. 26, No.3, Juli 2011, hlm. 336-337..

[27]Zetty Azizatun Ni’mah, “Pemikiran Pendidikan Islam Perspektif K.H. Ahmad Dalan (1869-1923 M) dan K.H. Hasyim Asy’ari (1871-1947 M): Study Komparatif dalam Konsep Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia”,  Jurnal Didaktika Religia, Vol. 2, No. 1, tahun 2014, hlm. 163.

[28] Hasbullah, Op.Cit., hlm. 272-273.

Komentar